Minggu, 04 Januari 2015

Orientasi, Ruang Lingkup, Kesalahan, dan Visi dalam Bimbingan dan Konseling

1.        Orientasi Bimbingan dan Konseling
Orientasi dalam bimbingan dan konseling meliputi:
a)        Orientasi Perseorangan
     Orientasi perseorangan dalam bimbingan dan koseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pandangan pada para siswa secara individual. Satu per satu siswa perlu mendapat perhatian.
b)        Orientasi Perkembangan
     Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan yang terjadi dan yang hendaknya diterjadikan  pada diri individu. Bimbingan dan konseling memusatkan perhatiannya pada keseluruhan proses perkembangan itu.
c)         Orientasi Permasalahan
     Orientasi masalah secara langsung bersangkut-paut dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengentasan menginginkan agar indiviidu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat terentaskan masalahnya.
2.        Ruang lingkup Bimbingan dan Konseling
A.  Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
     Sekolah merupakan lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat. Dalam kelembagaan sekolah terdapat sejumlah bidang kegiatan dan bidang pelayanan bimbingan dan konseling mempunyai kedudukan dan peranan yang khusus.
B.  Pelayanan Bimbinan dan Konseling di Luar Sekolah
·      Bmbingan dan Konseling Keluarga
     Keluarga merupakan suatu persekutuan hidup yang paling mendasar dan merupakan pangkal kehidupan masyarakat. Didalam keluargalah setiap warga masyarakat memulai kehidupannya. Segenap fungsi, jenis layana dan kegiatan bimbingan dan konseling pada dasarnya dapat diterapkan dengan memperhatikan kesesuaiannya dengan masing-masing karakteristik anggota keluarga yang memerlukan pelayanan itu.
·      Bimbingan dan Konseling dalam Lingkungan yang Lebih Luas
     Pelyanan bimbingan dan konseling yang manjangkaun daerah kerja yang lebih luas itu  perlu diselenggarakan oleh konselor yang bersifat multidimensional (Chiles & Eliken, 1983), yaitu yang mampu bekerja sam selain dengan guru, administrator, dan orang tua, juga dengan berbagai komponen dan lembaga dimasyarakat secara lebih luas. Konselor profesional yang multidimensional akan lebih banyak berperan sebagai pelatih dan supervisor, disamping penyelenggaraan layanan dan kegiatan “tradisional “ bimbingan dan konseling, bagi kaum muda dan anggota masyarakat lainnya (Goldman, 1976).
3.    Kesalah pahaman tentang Bimbingan dan Konseling
Kesalahpahaman yang sering dijumpai mengenai bimbingan dan konseling di lapangan adalah sebagai berikut:
1)      Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
2)      Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
3)      Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat
4)      Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental
5)      Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja
6)      Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang normal”
7)      Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
8)      Koselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
9)      Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
10)   Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
11)   Menyamakan pekerjaan bimbingan dan koseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater
12)   Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segara dilihat
13)   Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
14)   Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya)
15)   Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang ringan saja.

4.    Visi Bimbingan dan Konseling
     Bimbingan dan konseling sebagai ilmu dan juga sebagai profesi haruslah mampu memberikan sumbangan yang berarit bagi dunia Pendidikan Nasional dan dalam kehidupan masyarakat. bimbingan dan konseling tidak dibatasi hanya pada lingkup sekolah, tetapi menjangkau bidang di luar sekolah. Dari sudut pandang Bimbingan dan Konseling sebagai profesi bantuan, layanan knseling dilakukan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan cara memfasilitasi perkembangan individu atau kelompok sesuai dengan perkembangan, kemampuan yang dihadapi dalam perkembangannya.
     Visi Bimbingan Dan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedia-nya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri,dan bahagia.dan juga mewujudkan perkembangan diri dan kemandirian yang optimal sesuai dengan hakekatnya, baik sebagai mahluk individu atau mahluk sosial.


Daftar Pustaka
·           Prayitno dan Erman Amti, 2006. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:Rineka Cipta
diambil pada hari senin, 16 September 2013 pkl 07.50 wib
·           Prayitno, 2008. Trilogy Profesi.
http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&fkt=4720&fsdt=16580&q=trilogi+profesi&meta=&aq=f&oq=&aqi= (24 September 2009)
·           Visi bimbingan dan konseling.2008.

http://konselingpendidikan.blogspot.com/2008/11/visi-bimbingan-konseling.html.  (24 September 2009)

0 komentar :

Posting Komentar

About

taraditas@yahoo.co.id taraditaw@gmail.com