1.
Orientasi Bimbingan dan Konseling
Orientasi
dalam bimbingan dan konseling meliputi:
a)
Orientasi Perseorangan
Orientasi
perseorangan dalam bimbingan dan koseling menghendaki agar konselor
menitikberatkan pandangan pada para siswa secara individual. Satu per satu
siswa perlu mendapat perhatian.
b)
Orientasi Perkembangan
Orientasi
perkembangan dalam bimbingan
dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan yang
terjadi dan yang hendaknya diterjadikan
pada diri individu. Bimbingan dan konseling memusatkan perhatiannya pada
keseluruhan proses perkembangan
itu.
c)
Orientasi Permasalahan
Orientasi
masalah secara langsung bersangkut-paut dengan fungsi pencegahan dan fungsi
pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu dapat terhindar dari
masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengentasan
menginginkan agar indiviidu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat
terentaskan masalahnya.
2.
Ruang lingkup Bimbingan dan
Konseling
A.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling
di Sekolah
Sekolah
merupakan lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk menyelenggarakan
pendidikan bagi warga masyarakat. Dalam kelembagaan sekolah terdapat sejumlah
bidang kegiatan dan bidang pelayanan bimbingan dan konseling mempunyai
kedudukan dan peranan yang khusus.
B.
Pelayanan Bimbinan dan Konseling di
Luar Sekolah
· Bmbingan
dan Konseling Keluarga
Keluarga
merupakan suatu persekutuan hidup yang paling mendasar dan merupakan pangkal kehidupan masyarakat. Didalam
keluargalah setiap warga masyarakat memulai kehidupannya. Segenap fungsi, jenis
layana dan kegiatan bimbingan dan konseling pada dasarnya dapat diterapkan
dengan memperhatikan kesesuaiannya dengan masing-masing karakteristik anggota
keluarga yang memerlukan pelayanan itu.
· Bimbingan
dan Konseling dalam Lingkungan yang Lebih Luas
Pelyanan
bimbingan dan konseling yang manjangkaun daerah kerja yang lebih luas itu perlu diselenggarakan oleh konselor yang
bersifat multidimensional (Chiles & Eliken, 1983), yaitu yang mampu bekerja
sam selain dengan guru, administrator, dan orang tua, juga dengan berbagai
komponen dan lembaga dimasyarakat secara lebih luas. Konselor profesional yang
multidimensional akan lebih banyak berperan sebagai pelatih dan supervisor,
disamping penyelenggaraan layanan dan kegiatan “tradisional “ bimbingan dan
konseling, bagi kaum muda dan anggota masyarakat lainnya (Goldman, 1976).
3.
Kesalah pahaman tentang Bimbingan
dan Konseling
Kesalahpahaman yang sering dijumpai
mengenai bimbingan dan konseling di lapangan adalah sebagai berikut:
1)
Bimbingan dan konseling disamakan
saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
2)
Konselor di sekolah dianggap
sebagai polisi sekolah
3)
Bimbingan dan konseling dianggap
semata-mata sebagai proses pemberian nasihat
4)
Bimbingan dan konseling dibatasi
pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental
5)
Bimbingan dan konseling dibatasi
hanya untuk klien-klien tertentu saja
6)
Bimbingan dan konseling melayani
“orang sakit” dan/atau “kurang normal”
7)
Bimbingan dan konseling bekerja
sendiri
8)
Koselor harus aktif, sedangkan
pihak lain pasif
9)
Menganggap pekerjaan bimbingan dan
konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
10) Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat
pada keluhan pertama saja
11) Menyamakan
pekerjaan bimbingan dan koseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater
12) Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan
konseling harus segara dilihat
13) Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi
semua klien
14) Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya
pada penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori,
angket, dan alat pengungkap lainnya)
15) Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya
menangani masalah-masalah yang ringan saja.
4.
Visi Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan
konseling sebagai ilmu dan juga sebagai profesi haruslah mampu memberikan
sumbangan yang berarit bagi dunia Pendidikan Nasional dan dalam kehidupan
masyarakat. bimbingan dan konseling tidak dibatasi hanya pada lingkup sekolah,
tetapi menjangkau bidang di luar sekolah. Dari sudut pandang Bimbingan dan
Konseling sebagai profesi bantuan, layanan knseling dilakukan untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan cara memfasilitasi perkembangan
individu atau kelompok sesuai dengan perkembangan, kemampuan yang dihadapi
dalam perkembangannya.
Visi Bimbingan
Dan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan
melalui tersedia-nya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan
dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal,
mandiri,dan bahagia.dan juga mewujudkan perkembangan diri dan kemandirian yang
optimal sesuai dengan hakekatnya, baik sebagai mahluk individu atau mahluk
sosial.
Daftar Pustaka
·
Prayitno
dan Erman Amti, 2006. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:Rineka
Cipta
diambil pada hari senin, 16 September 2013 pkl 07.50 wib
·
Prayitno, 2008. Trilogy Profesi.
http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&fkt=4720&fsdt=16580&q=trilogi+profesi&meta=&aq=f&oq=&aqi=
(24 September 2009)
·
Visi bimbingan dan konseling.2008.
http://konselingpendidikan.blogspot.com/2008/11/visi-bimbingan-konseling.html.
(24 September 2009)
0 komentar :
Posting Komentar